PROFIL MASJID SABILIL MUTTAQIN
DESA KACANGAN - MALO
DESA KACANGAN - MALO
Kabar Gembira..... Klik disini untuk melihatnya
Madarasah diniyah Darul ulum adalah nama dari pendidikan para santri Masjid Sabilil Muttaqin yang terletak di Desa Kacangan Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro. Di Masjid ini ada 3 kegiatan mengajar rutin yang di laksanakan tiap hari. Kegiatan ini sudah menjadi budaya warga desa kacangan karene tampaknya mereka sudah sadar benar akan pentingya sebuah Ilmu pengetahuan terutama dibidang ilmu Agama. Dalam 3 waktu di satu hari masyarakat desa kacangan dengan ketat memasukkan putra - puti mereka ke dalam pendidikan yang ada di masjid sabilil muttaqin. jika di pantau lebih dalam,
pendidikan yang diikuti oleh para santri Sabilil muttaqin sungguh luar biasa. Mulai dari pagi jam 07:00 sampai dengan jam 11:00 mereka bersekolah di SD / MI lalu jam 14:00 sampai dengan jam 16:00 mereka bersekolah di TPQ lalu jam 17:30 sampai dengn jam 18:00 merka mengaji Al-Quran di Masjid Sabilil muttaqin dan di jam 18:00 sampai dengan jam 19:30 mereka masih mengikuti sekolah Diniyah di Darul-ulum. sungguh suatu kegiatan yang luar biasa dalam mengembangkan islam. Baik sipelajar atau sipengajar benar-benar punya semangat yang tinggi untu mencari dan mengamalkan Ilmu Allah SWT.Darul-ulum berdiri sejak tahu 1990 yang di asuh oleh seorang Ustadz dari Pondok pesantren Al-Basyriyah Petak-beget
Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro yang bernama Ust.Aminuddin dari Desa Cengungklung Kalitidu. Beliau pindah dan menetap di Desa Kacangan karena diambil cucu menantu oleh Bapak Carik/Sekdes Mustajab yang waktu itu Bapak Carik Mustajab adalah sebagai Ketua ta’mir Masjid Sabilil Muttaqin.Secara Ikhlas dan tulus Ust.Aminuddin mengajarkan ilmunya tanpa pamrih apa-apa dan tanpa imbalan sepeserpun. dengan tekun, tlaten dan sabar beliau mendidik putra-putri remaja generasi penerus Desa Kacangan hingga puluhan tahun tanpa imbalan apa-apa hanya mengharapkan Ridlo dari Allah SWT. Bulan berganti
bulan, tahun berganti tahun semakin lama semakin banyak para santri yang berdatangan untuk menuntut ilmu di Darul-ulum yang memanfaatkan tempat pengajaran numpang di Masjid Sabilil muttaqin tersebut, karena sedemikian banyaknya santri yang menuntut ilmu di Darul ulum, tampaknya Ust.Aminuddin merasa kuwalahan juga mengajar santri yang setiap generasi sudah berjumlah sekitar - + 30 santri tersebut. Pada tahun 2000 Ust.Aminuddin memberi amanat kepada Ust. Arif musta’in untuk ikut membantu mengajar santri yang semakin bertambah jumlahnya itu. Dengan suka rela Ust. Arif musta'in menyanggupi amanat yang
diberikan padanya walau tanpa ada honor sepeserpun. Ust. Arif mustain adalah warga asli penduduk Desa Kacangan yang rumahnya berada 50 meter di sebelah Utara Masjid Sabilil Muttaqin. Beliau juga santri dari Pondok Pesantren Al-Basyriyah Petak-Beged Kalitidu, sebelum beliau menjadi santri di pon-pes Al-Basyriyah beliau pernah mondok di Pon-Pes Al-hidayah Lasem-Rembang yang di asuh oleh Bpk.K.H. Sagir dan di Pon-Pes Sirojul-Hikmah Tanggir Tuban Asuhan Bpk.K.H. Sy’di. Ust.Arif mustain
sebenarnya sudah punya kegiata tersendiri secara pribadi, beliau adalah seorang pengajar Ilmu beladiri Reflex, namanya pun sudah cukup dikenal di Desa itu dan Tetangga Desa. Siswanya sudah mencapai ratusan lebih yang berasal dari berbagai macam wilayah. Perguruannya dinamakan Perguruan Silat Tenaga Dalam Karomatil Qur’an yang disingkat PSTD.K, materi yang diajarkan meliputi Ilmu Beladiri Reflex, Hipnotisme, Magnetisme, Kontakisme dan ilusioner karang tinggi.
Beliau adalah sebagai pimpinan pusat, karena beliaulah yang mendirikan PSTD.K dan mempunyai beberapa cabang diwilayah tertentu. Profil perguruan ini selengkapnya bisa
dilihat disini wwwpstdk.blogspot.comWaktu berjalan terus dan akhirnya pada tahun 2004 Ust. Aminuddin dengan terpaksa harus meninggalkan Desa Kacangan untuk pergi ke luar jawa mengemban amanat keluarga. Sementara kegiatan di Darul-ulum diserahkan sepenuhnya kepada Ust.Arif musta’in. Kurang lebi selama 3 tahun Ust.Aminudin meninggalkan Desa Kacangan dan Ust.Arifmustainpun harus kerja keras sendirian. Dengan sabar dan tlaten beliau menglola diniyah Darul-ulum, dengan berbagai metode yang dipergunakan, santri di darul-ulumpun bertambah banyak dan tampak kedisiplinannya. Kelihatannya seluruh warga setempat sangat menyadari
akan pentingya ilmu agama sehingga dengan ketat mereka mendukung dan mendorong putra-putranya untuk ikut belajar di diniyah darul-ulum. 3 tahun sejak kepergian Ust.Aminuddin telah terlewati, pada tahun 2007 Ust. Aminuddi telah kembali dari perantauannya. Beliau bersyukur karena pendidikan di Darul-ulum tetap berjalan lancar dan berkembang dengan bagus walaupun hanya diasuh oleh seorang pengajar. ini bisa dima'lumi sebab Ust.Arif mustain memang sudah berpengalaman dalam hal mengajar kaerena mulai dari tahun 1991 beliau sudah mengajar di PSTD.K terang saja beliau tidak merasa kerepotan mengajar di Diniyah Darul-ulum seorang diri. Dengan kembalinya Ust. Aminuddin maka kegembiraan pun menyelimuti hati
Ust.Arif musta’in dan kini akhirnya pendidikan di Darul-ulum tidak mengalami kepincangan lagi. Karena dilihat santrinya semakin bertambah banyak maka Ust.Aminuddin memberi amanat kepada menantunya yaitu Ust. Abdul shomad untu ikut mengajar secara suka rela tanpa honor di diniyah darul-ulum bersama-sama dengan Ust.Arif musta’in. Kebetulan Ust.Abdul shomad adalah teman sekelasnya Ust.Arif musta’in sewaktu mondok di pesantren Al-Basyiriyah Petak-Beget Kalitidu sehingga tehnik pendidikannya pun bisa berjalan serasi. Dengan pengarahan Ust. Aminuddin Perjuangan dari dua Ustadz Tersebut semakin hari
semakin tampak hasilnya dan diakui oleh masyarakat setempat sebagai tempat belajar yang layak untuk diikuti, terbukti semakin bertambahnya sis
wa yang masuk di diniyah tersebut atas dorongan orangtuanya.Dengan usaha keras dan jerih payah yang tinggi dan memerlukan waktu yang amat panjang banyak pula rintangan yang dihadapi oleh 2 pengajar tersebut yang sekiranya tak bisa diukur dengan materi . Dengan adanya Diniyah Darul-ulum, masyarakat setempat mewajibkan putra-putranya untuk ikut belajar di darul-ulum. di tahun 2009 tercatat santri Darul-ulum yang aktif kurang lebih ada sekitar 60 santri. Dengan keberhasilan berdirinya madrasah tersebut tampaknya ada 2 ustatz yang ingin ikut bergabung mengembangkan dan mengajar di Diniyah Darul ulum. Mereka adalah Ust.Solkan dan Ust.Ali usman. Dengan mendekati Ust.Aminuddin maka 2 Ustatz tersebut diizinkan untuk ikut mengajar di Darul-ulum. Setelah berjalan kurang lebih 3 bulan tampaknya Ust.Ali usman tidak bisa melanjutkan kegiatannya untuk mengajar di Diniyah Darul-ulum disebabkan terbentur oleh aktifitas ekonomi dan akhirnya dia digantikan oleh adiknya yaitu Ust.Abdul ghoni. Ust.Solkan pun sudah mulai tampak sering tidak aktif di Darul-ulum karena terbentur oleh aktifitas ekonomi pula. Sehubungan dia sendiri yang tadinya menawarkan diri untuk diizinkan ikut mengajar di Darul ulum maka
Ust.Solkan berusaha untuk tetap exis walaupun tidak menerima honor.Karena tampaknya ada pengajar yang kurang setabil aktivitasnya di Darul-ulum, maka Ust.Aminuddin mengambil kebijaksanaan untuk menambah 2 orang pengajar lagi sehingga bisa mengisi pelajaran santri Darul-ulum jika kebetulan sedang kosong. 2 orang Ustatz tersebut adalah Ust.Ahmad sa’id dari pon-pes Al-Basyiriyah Petak-beged Kalitidu dan Ust.Sonhadi dari Pon-pes Lirboyo Kediri. Ust.Ahmad sa’id adalah masih putra pertama dari Bpk.Kiyai Mashari, sedangkan kiyai Mashari adalah pemegang utama dari Masjid Sabilil Muttaqin. Sehubungan dengan usia Ust.Ahmad sa’id masih muda maka ia bukanlah pengajar utama di Diniyah Darul-ulum Desa Kacangan Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro.

ASAL-USUL MASJID SABILIL MUTTAQIN
Salah satu peninggalan bersejarah Masjid Sabilil Muttaqin adalah berupa sebuah Bedug besar dan kentongan yang terbuat dari potongan pohon jati utuh, di situ tertuliskan tahun pembuatannya. Pada tahun 1942 telah berdiri satu-satunya masjid di Desa kcangan. Masjid ini belum punya nama, Bahan bangunannya masih terbuat dari kayu jati dengan bentuk Rumah panggung. Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf dari Haji Abdul Ghoni putra mbah Mejo yang ke 5. Pada saat itu Mbah mejo adalah orang terhormat dan terpandang dan menurut kabar beliau adalah orang yang terkaya di Desa Kacangan dan dia punya 7 orang keturunan yang akhirnya jadi generasi penerus di Masjid Sabilil Muttaqin hingga

sekarang. Ust.Arif musta’in, Ust.Abdul ghoni dan Ust.Ahmad sa’id adalah masih termasuk keturunan atau cucu-cucu dari Mbah mejo. ke 7 keturunan mbah mejo adalah:1.Sakirah 2.Darinah 3.Samilah 4.H.yasin 5.H.Abdul ghoni 6.Umar 7.Salamah
Ibu Sakirah adalah putri pertama mbah mejo yang punya 12 keturunan diantaranya Bpk. Mustajab sebagai carik/Sekdes di Desa kacangan pada masa itu, juga sebagai Ketua ta’mir masjid. Pada saat itu jabatan kiyai di pegang oleh Kiyai Sahir (cucu mbah mejo ) putra ke 4 dari H.yasin, sedang H.yasin adalah putra ke 4 dari mbah mejo. Kiyai sahir kawin dengan kerabatnya sendiri/ masih keturunan mbah mejo tapi tampaknya perkawinan mereka kurang harmonis dan akhirnya kiyai Sahir menceraikan istrinya dengan meninggalkan satu putra. Kyai sahir kawin lagi dengan putri dari desa Kebon agung Kec Porwosari Bojonegoro yang akhirnya Kiyai Sahir meninggalkan desa Kacangan dan menetap di desa kebon agung. Dengan perginya kiyai Sahir maka jabatan kiyai di masjid itu diganti oleh kiyai Kayat cucu menantu mbah mejo. Kiyai kayat adalah berasal dri desa mbetet-Kasiman-Bojonegoro. Beliau kawin dengan fatonah adik dari kiyai sahir / putri ke lima dari H.yasin. Bpk. carik mustajab punya 3 orang putri yaitu Marfu’ah, Sya’idah dan Karomah. Sya’idah dikawin oleh Mashari dan dikaruniai 2 keturunan. putra yang pert
ama yaitu Ust.Ahmad said. Bapak Mashari menjadi kiyai di Masjid Kacangan setelah Meninggalnya kiyai Kayat beliau menggantikan kedudukan Kiyai Kayat. Ibu Karomah hanya punya satu orang putri yang bernama Mudrikah dan di kawin oleh Ust.Aminuddin dari Desa Cengunklung Kalitidu dan di karuniai 2 putri. Ditahun 2007 putri pertama Ust.Aminuddin dikawin oleh Ust.Abdusshomad yang akhirnya di tahun 2008 Ust. Abdusshomat mendapat amanat dari mertuanya untuk ikut mengajar di madrasyah Darul-ulum Ds.Kacangan tanpa mendapat honor alias geratisan.Keturunan Mbah mejo yang ke empat adalah H.yasin beliau dikaruniai
beberapa keturunan dan diantaranya Fatonah yang dikawin oleh Kayat dari Mbetet. Kayat dikaruniai beberapa keturunan dan diantaranya adalah Komariyah yang di kawin oleh Bapak Akhwan dari Singgahan Tuban dan ditahun 2009 Bapak Akhwan masih menjabat sebagai PPN (Pegawai pencatat Nikah). Ust.Abdul ghoni adalah putra yang ketiga dari pasangan Komariyah dan Akhwan.Putra Mbah mejo yang ke lima adalah H.Abdulghoni, hingga akhir hayatnya beliau tidak di karuniai keturunan. Sebagian tanahnya diwakafkan untuk pendirian Masjid yang pertama di Desa Kacangan pada tahun 1942 dan bangunan tersebut telah mengalami beberapa kali renovasi hingga sekarang dan sekarang punya nama Sabilil muttaqin.
Putri Mbah
mejo yang ke tuju adalah Ibu Salamah yang dikawin oleh Bapak Usman dari Desa Kemiri, Mlao, Bojonegoro. Mereka dikaruniai 10 anak. Putra yang ke 9 bernama Nurhasym yang pada tahun 1987 pernah menjabat sebagai Moden(kesra) di Desa Kacangan. Ust.Arif musta’in adalah putra ke lima dari Bapak Nurhasym.Di tahun 2009 Kalau di tinjau dari silsilah di atas para ustadz yang mengajar di madrasah diniyah darul-ulum Desa Kacanga yang masih mempunyai garis keturunan dari cikal-bakal masjid Sabilil muttaqin adalah Ust.Arif musta’i, Ust.Ahmad sa’id dan Ust.Abdul ghoni.
RENOVASI
DAN NAMA MASJID SABILIL MUTTAQIN
DAN NAMA MASJID SABILIL MUTTAQIN
Sejak berdirinya masjid Sabilil muttaqin hingga kurang lebih di tahun 1982 masyarakat yang
sholat berjamaah di masjid tersebut semakin banyak, jika hari jum’at tiba yang berjama’ah meluap hingga di halaman masjid. mereka yang datang terlambat harus membawa tikar pandan karena tidak kebagian tempat. Dengan adanya kondisi semacam itu maka atas kesepakatan masyarakat setempat maka panitia Masjid tersebut memutuskan untuk merenovasi bangunan tersebut dengan dana swadaya. Di akhir tahun 1982 renovasi baru terselesaikan. Masjid yang asalnya terbuat dari kayu jati berbentuk panggung yang memuat jamaah
sekitar 250 orang kini telah menjadi masjid yang lumayan agak lebar sedikit dengan bangunan tembok dan lantai tekel dan memuat jamaah kurang lebih 400 orang. pada tahun 1983 Universitas Sunan Ampel Surabaya mengirim beberapa sarjana dari beberapa jurusan ke Desa Kacangan untuk Ber KKN (Kuliah Kerja Nyata). Mereka diantaranya adalah Bpk.Anwar, Bpk.Kundori, Bpk.Nasir, Bpk.Ardiansyah, Ibu.Dariroh dan Ibu Lilik. 3 bulan lamanya sarjana yang ber kkn itu tinggal di desa Kacangan dan ber indekost di rumah Bapak Carik Mustajab. banyak sekali program yang di buat di Desa Kacangan tersebut yang bisa membimbing untuk kemajuan desa tersebut. Pada suatu ketika kkn tersebut
membuat suatu acara di masjid yang melibatkan pihak kecamatan, mereka bingung karena dalam membuat surat tembusan ke kecamata masjid tersebut belum ada namaya akhirnya dengan mendadak para sarjana tersebut membuatkan nama untuk masjid di Desa Kacangan dan akhirnya tercipta sebuah nama SABILIL MUTTAQIN hingga sekarang ini.Waktu berjalan terus semakin lama Agama Islam di Desa Kacang terus berkembang, orang yang berjamaah di masjid sabilil muttaqi pun semakin banyak tiap kali datang hari jum’at maka jamaahpun sudah mulai berdesakan. Di tahun 1987 masjid
sabilil muttaqi sudah mulai tidak mampu menampung jamaahnya lagi, akhirnya dengan kesepakatan para ta’mir masjid dibentuklah panitia pembangunan masjid untuk membangun dan memperbesar masjid sabilil muttaqin. Pembangunan ini berbeda dengan pembangunan yang pertama. Kalau pembangunan yang pertama hanyalah sebatas membangun untuk mengganti beberapa bahan yang sudah rapuh. dalam pembangunan ini hanya di pimpin oleh beberapa tokoh masyarakat dan agama setempat waktu pembangunannya kurang lebih sekitar 3 bulan. Dipembangunan yang ke 2 ini ta’mir masjid rupanya harus membentuk PPMS (panitia
pembangunan masjid sabilil muttaqin) mengingat acar pembangunan tersebut adalah merupakan pembangunan terbesar dan menelan biyaya yang amat tinggi, waktunya pun juga tidak bisa di tentukan kapan harus selesai. Pihak panitia pembangunan tidak bisa menentukan kapan selesainya sebab pembangunan kali ini benar-benar memerlukan dana yang amat tinggi dan bersumber dari swadaya masarakat desa Kacangan. pembangunan ini sering tersendat-sendat karena kehabisan dana Sewaktu kas masjid sudah banyak terkumpul maka pembangunan dilanjutkan lagi dan begitu seterusnya hingga tahun 2009. Pembangunan inipun masih jauh dari
harapan panitia, jika kita lihat tempat wudunya masih memprihatinkan dan bangunan lantai 2 pun belum terselesaikan, sedangkan perkembangan pendidikan di masjid tersebut semakin maju pesat. Mengingat di desa Kacangan banyak sekali Alumni dari Pon-pes Albasyriyah maka pada tahun 2006 Bpk.K.H.Maimun basyir Pengasuh Pon-Pes Albasyriyah Petak-beged, Kalitidu menganjurkan untuk didirikan Taman Pendidikan Qiro'ati (TPQ) di desa tersebt. dengan adanya amanat itu maka segeralah dibentuk pengurus-pengurusnya dan TPQ desa kacangan berdiri hingga saat ini yang di kepalai oleh Bpk.M.As'ad (Kesra di tahun 2000).TAMBANG EMAS DI
DESA KACANGAN
Tepat di depan masjid sabilil muttaqi kurang - lebih sekitar 300 meter terdapat aliran bengawan solo yang tiap tahun airnya bisa di pastikan meluap hingga membanjiri desa tersebut. sungguh suatu kejadian yang tak pernah diketahui oleh warga Desa Kacangan DESA KACANGAN
bahwasannya di bengawan tesebut tepat di depan masjid Sabilil muttaqin adalah merupakan tambang emas. pasirnya yang bercampur dengan batu krikil kecil ternyata banyak sekali ditempati endapan butiran emas murni yang per gramnya di tahun 2009 laku Rp.150000. warga desa kacangan baru mengetahui hal tersebut karena ada seklompok pendatang dari daerah Ngawi yang selalu tampak
kungkum danmengayak pasir di perairan bengawan solo yang sudah teramat dangkal airnya. pada mulanya seklompok pendatang itu pernah ditanya oleh warga desa kacangan tentang kegiatannya itu, tapi tampaknya warga ngawi itu tidak menjawab secara terus terang. di bulan Agustus 2009 tampaknya penambang emas dari ngawi itu sudah mendapatkan hasil yang melimpah sehingga pada suatu hari sekelompok tersebut melakukan ritual bersedekah ayam panggang lengkap dengan nasinya di pinggir bengawan solo tersebut. mereka juga mengundang beberapa warga desa Kacangan yang kebetulan melintas di tempat itu untuk diajak bersyukuran, akhirnya warga desa kacangan yang ikut ritual itu semakin penasaran tentang aktifitas yang dilakukan seklompok pendatang dari ngawi tersebut, apalagi
sampai menggelar acara ritual syukuran segala. dengan berbagaimacam basa-basi, obrolan dan desakan pertanyaan dari warga desa kacangan
yang ikut acara ritual tersebut maka warga ngawi tersebut tidak bisa menghindar untuk menutupi kegiatannya. "pasir di bengawan ini banya mengandung emas topak, saya sudah mendapat sekitar 9 juta dari penambangan ini,
makanya saya melakukan
syukran" jawab salah seorang dari warga ngawi tersebut. alangkah terkejutnya warga desa kacangan yang mendengar kabar tersebut, dengan berapi-api mereka semakin deras mengajukan berbagai pertanyaan dan setelah paham warga desa kacangan yang mendenga kabar itu langsung ikut menambang emas
mengikuti
jejak warga ngawi tersebut. Kabar penambangan Emas tersebut semakin hari semakin tersebar luas kususnya warga desa kacangan, di awal bulan November 2009 tampak sangat ramai sekali warga desa kacangan yang berbondong-bondong ikut mencari butiran emas di bengawan solo hingga kabar tersebut
didengar oleh kang Nyoto Bupati Bojonegoro.


















